Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NEWS

TRAGEDI DI SMPN 7 LUBUK BASUNG, Siswa 14 Tahun Diduga Dicekik Satpam, Trauma Berat Hingga Enggan Sekolah

1360
×

TRAGEDI DI SMPN 7 LUBUK BASUNG, Siswa 14 Tahun Diduga Dicekik Satpam, Trauma Berat Hingga Enggan Sekolah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AGAM | Dunia pendidikan di Kabupaten Agam kembali tercoreng oleh dugaan kekerasan terhadap peserta didik. Rangga Wijaya (14), siswa kelas VIII.1 SMPN 7 Sungai Jariang, Kecamatan Lubuk Basung, dilaporkan mengalami trauma psikologis berat setelah diduga menjadi korban pencekikan oleh oknum satpam sekolah. Akibat peristiwa tersebut, Rangga kini menolak kembali ke sekolah dan memilih mengurung diri di rumah.

Peristiwa memilukan ini terjadi beberapa bulan lalu dan sempat viral di media sosial. Namun hingga kini, kasus tersebut justru berkembang ke arah yang dinilai janggal oleh pihak keluarga. Alih-alih mendapatkan perlindungan sebagai anak di bawah umur, kakak korban bersama ayahnya malah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

Example 300x600

Kakak kandung Rangga, Riyan (26), mengungkapkan bahwa keluarga mereka semakin tertekan setelah muncul dugaan pemerasan berkedok perdamaian. Menurut Riyan, pihak satpam melalui kuasa hukumnya meminta sejumlah uang fantastis agar laporan polisi dicabut.

“Pihak satpam melalui kuasa hukumnya meminta uang Rp100 juta jika kasus ini ingin diselesaikan secara damai. Permintaan itu disampaikan langsung kepada saya di kantor pengacara. Saya memiliki rekaman pembicaraannya sebagai bukti,” ujar Riyan kepada awak media, Rabu (14/1/2026).

Riyan menilai permintaan tersebut sangat tidak masuk akal dan semakin menguatkan dugaan adanya ketidakadilan dalam penanganan perkara ini. Ia menegaskan, adiknya adalah korban kekerasan fisik dan psikis yang seharusnya dilindungi oleh sistem pendidikan dan aparat penegak hukum.

Berdasarkan keterangan keluarga, insiden bermula saat Rangga terlambat masuk kelas usai jam istirahat bersama dua orang rekannya. Dua rekannya tersebut diketahui diberi sanksi memungut sampah oleh satpam sekolah. Sementara Rangga, karena takut, bersembunyi di balik pagar sekolah.

Namun keberadaan Rangga diketahui oleh satpam. Saat itu, satpam disebut melontarkan ancaman akan melaporkan Rangga kepada kepala sekolah. Merasa tertekan dan ketakutan, Rangga yang masih berusia 14 tahun sempat membantah. Diduga karena hal tersebut, oknum satpam kemudian melakukan tindakan kekerasan dengan mencekik leher Rangga hingga meninggalkan bekas memar.

Baca Juga:  Kombes Pol Andri Kurniawan Tegas Berantas Tambang Emas Ilegal di Pasbar, 4 Operator Diciduk

Dalam kondisi syok dan kesakitan, Rangga pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada keluarganya. Melihat kondisi fisik dan psikis anaknya, ayah Rangga langsung mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan.

Saat ayah Rangga berada di dalam ruangan bersama kepala sekolah, terdengar keributan di luar. Ketika keluar ruangan, ia mendapati kakak Rangga yang masih berstatus pelajar terlibat cekcok dengan oknum satpam. Peristiwa inilah yang kemudian berujung pada laporan balik dan penetapan status tersangka terhadap pihak keluarga korban.

“Kami benar-benar terpukul. Adik saya dicekik, trauma, sampai tidak mau sekolah lagi. Tapi sekarang justru keluarga kami yang dijadikan tersangka. Di mana keadilan bagi anak di bawah umur?” ujar Riyan dengan nada getir, Kamis (15/1/2026).

Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat bersikap objektif dan profesional, serta menempatkan posisi Rangga sebagai korban kekerasan. Mereka juga meminta adanya perlindungan khusus terhadap anak sesuai dengan undang-undang perlindungan anak.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya mengonfirmasi pihak SMPN 7 Sungai Jariang, Dinas Pendidikan Kabupaten Agam, serta pihak kepolisian terkait penetapan status tersangka dan dugaan permintaan uang damai dalam kasus ini.

(AP Karie)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *