Pengamat Maritim Desak Pemerintah Hentikan Tambang Nikel di Raja Ampat: “Jangan Korbankan Bumi Pertiwi Demi Tambang’’

NEWS647 Dilihat

Mitrapos.id, Jakarta, 7 Juni 2025 | Protes keras dilayangkan Ketua Umum Wawasan Hukum Nusantara Arqam Bakri terhadap aktivitas pertambangan nikel di wilayah Raja Ampat yang dinilai dapat merusak lingkungan dan mengancam keberlanjutan ekosistem laut yang menjadi kebanggaan Indonesia. Dalam wawancara dengan pengamat maritim , Christmas Datumbanua, juga menyuarakan keprihatinannya terhadap aktivitas industri ekstraktif yang berlangsung di salah satu kawasan konservasi terindah di dunia.

‘’Raja Ampat bukan wilayah biasa. Ini adalah warisan dunia, surga biota laut yang menjadi penopang kehidupan nelayan lokal dan daya tarik wisatawan internasional. Jika pemerintah tidak bertindak cepat, kita bisa kehilangan kekayaan alam ini untuk selamanya,”

Menurut Christmas, dampak pertambangan nikel di wilayah pesisir dan kepulauan seperti Raja Ampat tidak hanya sebatas pada daratan, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap ekosistem laut.

“Sedimen dari kegiatan tambang bisa terbawa ke laut, menyebabkan kerusakan pada terumbu karang, matinya biota laut, serta menurunnya kualitas air. Padahal Raja Ampat adalah pusat biodiversitas laut dunia, dengan lebih dari 1.500 spesies ikan dan ratusan jenis karang,” ujarnya
Ia menambahkan bahwa pembangunan smelter atau pelabuhan tambang akan membutuhkan reklamasi dan pengerukan yang berpotensi memicu kerusakan besar-besaran di pesisir pulau-pulau kecil yang rapuh.

“Raja Ampat bukanlah wilayah yang cocok untuk tambang. Wilayah ini lebih cocok dilestarikan dan dikembangkan sebagai kawasan konservasi dan pariwisata berbasis masyarakat,” katanya.

Harus adanya peran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mengatur izin pertambangan untuk turun tangan langsung dan mengevaluasi semua izin usaha pertambangan (IUP) yang aktif di kawasan Raja Ampat.

“Saya kira sudah saatnya Menteri ESDM mendengar suara masyarakat dan para ahli. Tidak semua wilayah harus ditambang. Ada wilayah yang memiliki nilai ekologis jauh lebih tinggi daripada nilai ekonominya. Raja Ampat adalah salah satunya,” katanya tegas.
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak daerah lain yang memiliki kandungan nikel dan bisa dikembangkan sebagai pusat industri, seperti Halmahera atau Morowali, yang secara geografis lebih cocok untuk industri ekstraktif.

“Jangan sampai kita menghancurkan permata dunia hanya untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek. Pemerintah harus bijak dalam menyeimbangkan pembangunan dan pelestarian lingkungan,”
Menutup wawancaranya, Christmas menyampaikan harapannya kepada Presiden Prabowo agar memberikan perhatian serius terhadap isu ini. Ia meminta agar Raja Ampat segera ditetapkan sebagai zona bebas tambang dan masuk dalam prioritas pelestarian nasional.

“Saya yakin Pak Presiden mencintai laut Indonesia. Ini saatnya membuktikan bahwa kita benar-benar menjaga laut dan pulau-pulau kecil kita dari kerusakan,Kita masih punya pilihan. Selamatkan Raja Ampat sekarang, atau menyesal di kemudian hari ketika semua sudah terlambat.”

Penulis:
Dr (C). C. Datumbanua, S.E.,S.H.,M.H.,M.Mar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *