PESISIR SELATAN | Pagi itu, Sabtu (29/11/2025), embun masih menggantung di dedaunan ketika iring-iringan kendaraan bantuan mulai bergerak dari halaman kantor pemerintah daerah. Suasana Pesisir Selatan belum sepenuhnya pulih. Hujan yang turun tiga hari berturut-turut menorehkan luka panjang: banjir menggenangi perkampungan, longsor menutup jalan, dan ratusan warga harus mengungsi mendadak. Di tengah kondisi itu, anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, memilih berada di lapangan.
Dalam balutan rompi lapangan berwarna gelap, Lisda berdiri di tengah jajaran Forkopimda Pessel, BPBD, TNI–Polri, dan relawan yang bersiap menyalurkan logistik. Tidak banyak bicara, ia lebih sibuk memastikan pendataan pengungsi, titik distribusi, dan rute aman yang bisa dilalui kendaraan. “Kita pastikan dulu semuanya sampai ke warga yang membutuhkan,” ucapnya pelan sebelum rombongan berangkat.
Perjalanan menuju wilayah terdampak tidak mudah. Jalan licin, beberapa ruas tergenang air, sementara di lokasi lain tebing yang rapuh membuat aparat harus berhenti berkali-kali. Namun semua itu tak menghalangi langkah mereka. Setiap titik yang dinilai rawan, tim turun bersama-sama memindahkan barang, menyeberangkan logistik, dan memastikan tidak ada bantuan tercecer.
Sesampainya di salah satu titik pengungsian di Kecamatan Batang Kapas, wajah-wajah lelah warga menyambut kedatangan mereka. Tangis anak-anak masih terdengar di balik tenda darurat. Para ibu, sebagian masih menggenggam pakaian basah, berdiri berjajar menunggu giliran mendapatkan bantuan. Lisda tidak hanya menyerahkan paket sembako; ia berjongkok, menyapa para lansia, dan memeriksa kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi.
“Kalau malam dingin sekali, Nak… selimut kami basah,” ujar seorang perempuan tua dengan mata yang terlihat letih. Lisda mengangguk, meminta tim mencatat dan memastikan tambahan logistik hangat dikirimkan sore itu juga. Dalam setiap obrolan singkat, ia mencoba mendengar lebih banyak daripada berbicara.
Di posko berikutnya, tim menemukan dapur umum yang mulai kekurangan bahan baku. Para relawan berusaha mempertahankan api agar tetap menyala, namun beras hampir habis. Lisda langsung membuka komunikasi dengan BPBD dan posko induk agar kebutuhan dapur umum menjadi prioritas distribusi berikutnya. “Selama warga belum makan layak, pekerjaan kita belum selesai,” katanya.
Pekerjaan hari itu berlangsung nyaris tanpa jeda. Dari pagi hingga siang, rombongan berpindah dari satu nagari ke nagari lain. Setiap tempat menunjukkan sisi berbeda dari bencana: rumah hanyut, ternak hilang, dan akses yang terputus. Namun satu hal seragam—masyarakat tetap berusaha bertahan.
Menjelang sore, intensitas hujan kembali meningkat. Tim memutuskan meninjau titik rawan longsor yang sebelumnya telah dilaporkan warga. Pada lokasi itu, tanah masih bergerak dan pepohonan tampak miring. Meski demikian, Lisda tetap turun, didampingi aparat, untuk memastikan keselamatan masyarakat sekitar. Di sana ia meminta agar pemerintah pusat diberi laporan cepat agar penanganan bisa dilakukan dengan dukungan teknis yang lebih besar.
“Situasi ini harus segera tertangani. Kita dorong BNPB dan kementerian terkait mempercepat bantuan, terutama untuk perbaikan akses dan kebutuhan darurat,” ujarnya singkat.
Hampir petang ketika rombongan kembali ke posko induk. Tubuh lelah tampak jelas pada wajah setiap anggota tim, namun kepuasan terlihat karena sebagian besar titik sudah terjangkau. Di sela evaluasi petang itu, Lisda menyampaikan bahwa respon cepat adalah kunci, tetapi pendampingan lanjutan tak kalah pentingnya. Menurutnya, warga tidak hanya membutuhkan logistik, tetapi juga pemulihan psikososial, perbaikan rumah, dan jaminan kebutuhan harian hingga situasi kembali normal.
Malam turun perlahan. Aktivitas relawan masih berlanjut, namun suara alat berat mulai terdengar di beberapa titik, tanda bahwa proses pemulihan mulai bergerak. Di teras kecil posko, Lisda menutup hari dengan mengecek kembali daftar pengungsi dan kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi besok. “Ini baru langkah awal,” katanya sambil menatap tenda-tenda yang masih ramai aktivitas.
Bagi sebagian orang, bencana mungkin hanyalah berita. Tetapi bagi warga Pesisir Selatan, hari itu adalah pengingat bahwa solidaritas adalah kekuatan paling nyata ketika alam tidak bersahabat. Dan kehadiran perwakilan rakyat di tengah genangan—bukan di belakang meja—menjadi salah satu bukti bahwa pengabdian memang harus dimulai dari tempat yang paling membutuhkan.
TIM



















