Sinuruik, Pasaman Barat, 16 Agustus 2025 | Sejumlah anak nagari Sinuruik menggelar musyawarah bersama yang berlangsung dalam suasana hangat, penuh rasa kekeluargaan, serta semangat untuk membenahi dan memajukan nagari tercinta. Pertemuan ini menjadi wadah diskusi terbuka bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menyampaikan aspirasi, evaluasi, sekaligus harapan terhadap arah pembangunan Nagari Sinuruik ke depan.
Dalam forum tersebut, berbagai pandangan kritis namun konstruktif mengemuka. Para peserta menegaskan bahwa musyawarah ini bukan ajang saling menyalahkan, melainkan ruang kebersamaan untuk saling mengingatkan, memperkuat komitmen, dan mencari solusi demi kebaikan bersama.
“Kami berkumpul bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengingatkan dan saling menguatkan demi nagari yang lebih baik,” ungkap salah seorang peserta dengan penuh semangat.
Evaluasi Pemerintahan dan Adat
Topik yang dibicarakan mencakup penguatan fungsi pemerintahan nagari, transparansi dalam pengelolaan anggaran, serta evaluasi terhadap peran lembaga adat. Anak nagari menilai perlunya revitalisasi lembaga adat agar kembali menjadi rujukan moral, budaya, sekaligus pengayom masyarakat.
Tak kalah penting, forum ini juga menyoroti pergeseran posisi adat yang dinilai mulai tidak berada pada tempatnya. Karena itu, diperlukan penataan ulang yang tegas agar adat tetap menjadi fondasi kehidupan sosial nagari.
Harapan untuk Perubahan
Musyawarah menghasilkan satu tujuan utama: memastikan setiap kebijakan yang diambil pemerintah nagari maupun lembaga adat benar-benar berpihak kepada masyarakat. Keputusan-keputusan tersebut diharapkan selalu berlandaskan prinsip keterbukaan, keadilan, dan kearifan lokal, sehingga dapat membawa manfaat nyata bagi seluruh warga.
“Semoga apa yang tidak pada tempatnya bisa kita luruskan bersama. Harapan kami, Nagari Sinuruik bisa berubah ke arah yang lebih baik, maju, dan bermartabat,” tutur salah seorang inisiator kegiatan.
Titik Awal Kebangkitan
Anak nagari menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai alat kontrol sosial yang konstruktif. Dengan partisipasi aktif seluruh elemen, perubahan yang diimpikan bukan hanya wacana, melainkan langkah nyata yang lahir dari kepedulian bersama.
Musyawarah ini diyakini sebagai titik awal kebangkitan, bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana: kesadaran, kepedulian, dan cinta pada kampung halaman.
(Tim)



















