Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NEWS

Dari Ladang ke Pembangunan: Harapan Baru Warga Padang Mardani di Tengah Perubahan

8
×

Dari Ladang ke Pembangunan: Harapan Baru Warga Padang Mardani di Tengah Perubahan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
AGAM | Sore itu, langit Jorong Padang Mardani tampak teduh. Di halaman Masjid Nurul Amal, masyarakat mulai berdatangan satu per satu—ada yang berjalan kaki, ada pula yang datang berkelompok. Wajah-wajah yang hadir menyiratkan satu hal yang sama: rasa ingin tahu, sekaligus harapan terhadap masa depan kampung mereka.

Minggu, 26 April 2026, menjadi momen penting bagi warga Nagari Manggopoh. Ninik mamak bersama Lembaga Nagari yang dipimpin Ketua KAN, R Dt. Tumbijo, turun langsung bertemu masyarakat. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, tetapi menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan arah perubahan yang tengah dan akan terjadi di wilayah tersebut.

Di tengah suasana yang hangat, tokoh adat, pemuda, Bundo Kanduang, hingga aparat jorong duduk bersama tanpa sekat. Kepala Jorong Padang Mardani, Afrizal, tampak sesekali berbincang dengan warga, menandakan eratnya hubungan sosial yang masih terjaga.

Example 300x600

Namun, di balik keakraban itu, tersimpan satu kenyataan besar: Padang Mardani kini berada di ambang perubahan.

Ketua KAN dalam penyampaiannya menegaskan bahwa kawasan eks HGU 1 PT Inang Sari akan menjadi pusat berbagai pembangunan strategis. Salah satunya adalah pembangunan Markas Batalyon TP 897/Singgalang yang kini sudah mulai berjalan. Selain itu, tersedia pula lahan fasilitas umum seluas 15 hektare yang akan diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat Nagari Manggopoh ke depan.Bagi sebagian warga, informasi ini menjadi angin segar. Namun bagi yang lain, perubahan selalu membawa tanda tanya.

“Kalau pembangunan masuk, kami harus bagaimana?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu terasa menggantung di benak masyarakat.

Melihat hal tersebut, ninik mamak mencoba menjembatani kegelisahan yang ada. Mereka tidak hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi juga peluang. Masyarakat didorong untuk memanfaatkan lahan yang ada sebelum digunakan secara permanen oleh pemerintah. Bertani cabai, sayuran, atau tanaman jangka pendek menjadi salah satu solusi yang ditawarkan untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Baca Juga:  DOSEN DALAM DAN LUAR NEGERI MEMBERI KULIAH DI STIT SYEKH BURHANUDDIN PARIAMAN

Di sisi lain, Wali Nagari Manggopoh, Zahmas Ari, S.Pd.I (Tuangku Sidi), menyampaikan pandangan yang lebih luas. Ia melihat Padang Mardani bukan sekadar kampung biasa, tetapi sebagai titik strategis pengembangan Kabupaten Agam di masa depan.

“Ini peluang besar bagi kita,” kira-kira begitu pesan yang ingin disampaikan. Namun peluang itu, menurutnya, hanya bisa dimanfaatkan jika masyarakat tetap kompak dan tidak mudah terpecah oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya.

Pesan tersebut terasa penting. Dalam setiap proses pembangunan, selalu ada gesekan—baik karena informasi yang simpang siur maupun kepentingan yang berbeda. Karena itu, ajakan untuk menjaga kebersamaan menjadi benang merah dalam pertemuan tersebut.

Suasana semakin hidup ketika sesi diskusi dibuka. Seorang warga, Asmaniar dari suku Mandailing, mengangkat tangan dan menyampaikan pertanyaan yang mewakili banyak orang: apakah masyarakat diperbolehkan berkebun di lahan fasum nagari?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi sarat makna. Ia mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat yang masih bergantung pada lahan sebagai sumber penghidupan.

Jawaban dari ninik mamak pun cukup tegas namun bijak. Masyarakat diperbolehkan memanfaatkan lahan tersebut, khususnya untuk tanaman jangka pendek, selama mengikuti kesepakatan bersama dan tetap terkoordinasi. Tidak boleh ada penguasaan sepihak, dan semua harus tercatat dengan baik.

Di sinilah terlihat keseimbangan antara adat, kepentingan masyarakat, dan rencana pembangunan.

Ketua KAN yang juga merupakan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat menambahkan bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan kebutuhan petani melalui kelompok tani, termasuk lewat dukungan dana pokok pikiran (pokir). Harapannya, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi juga ikut merasakan manfaatnya secara langsung.

Tak hanya itu, masyarakat juga diajak untuk bersinergi dengan TNI dari Batalyon TP 897/Singgalang yang saat ini tengah membangun markas di wilayah tersebut. Kehadiran mereka diharapkan bukan menjadi jarak, melainkan jembatan kolaborasi untuk kemajuan daerah.

Baca Juga:  Kapolda Sumbar, Irjen Pol. Gatot Tri Suryanta: "Pembangunan di SLB YKB Tanah Datar Diupayakan Untuk Terus Ditingkatkan"

Menjelang akhir pertemuan, satu hal penting kembali ditegaskan: tidak akan ada ganti rugi bagi penggarap ketika lahan fasum mulai digunakan untuk pembangunan. Namun demikian, pemerintah nagari berkomitmen untuk tetap mengedepankan rasa kemanusiaan, terutama bagi tanaman yang sedang dalam masa panen.

Pernyataan ini menjadi penutup yang realistis—tidak semua bisa dipertahankan, tetapi semua bisa diatur dengan bijak.

Sore pun beranjak senja. Warga mulai beranjak pulang, membawa berbagai pemikiran baru. Di satu sisi ada kekhawatiran, di sisi lain tumbuh harapan.

Padang Mardani kini sedang berdiri di persimpangan: antara ladang yang telah lama menjadi sumber kehidupan, dan pembangunan yang menjanjikan masa depan baru.

Di tengah semua itu, satu pesan tetap menggema—kekompakan adalah kunci. Tanpa itu, perubahan bisa menjadi beban. Namun dengan kebersamaan, perubahan justru bisa menjadi jalan menuju kesejahteraan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *