TANAH DATAR, (MP) — Menanggapi sorotan publik di media sosial selama dua tahun terakhir terkait kondisi jalan rusak yang dijuluki “Jalan Seribu Lobang”, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang menunjukkan langkah konkret dengan mempercepat perbaikan sejumlah ruas jalan provinsi di Kabupaten Tanah Datar.
Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, perbaikan ruas jalan Batusangkar–Lintau via Guok Cino dilakukan secara simultan pada dua titik utama. Pekerjaan ini melibatkan dua perusahaan besar yang selama ini dikenal sebagai pelaksana proyek-proyek bernilai miliaran rupiah, baik dari APBN maupun APBD.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (6/5), dua titik pengerjaan tersebut terbagi menjadi:
- Spot I: Ruas Bukik Gombak – Guok Cino
- Spot II: Ruas Guok Cino – Setangkai (Lintau)
Kedua proyek ini memiliki nilai kontrak yang cukup signifikan. Untuk ruas Bukik Gombak – Guok Cino (P.037), proyek dikerjakan oleh PT Pandora Energi Persada dengan nilai kontrak Rp1,816 miliar, berdasarkan kontrak tertanggal 10 April 2026. Sementara itu, ruas Guok Cino – Setangkai (P.039) dikerjakan oleh PT Statika Mitra Sarana dengan nilai kontrak sekitar Rp1,5 miliar dan masa pelaksanaan 90 hari.
Perbaikan ini tidak lepas dari kondisi jalan yang sebelumnya sangat memprihatinkan. Pada ruas Guok Cino – Setangkai, misalnya, sempat viral sebuah video wawancara penumpang bus yang menggambarkan buruknya kondisi jalan. “Raso ka mati rasonyo, Pak,” ungkap seorang penumpang saat ditanya mengenai pengalaman melintasi jalan tersebut. Lokasi jalan ini diketahui berada tepat di depan sebuah SMP di Nagari Atar, Kecamatan Padang Ganting.
Kondisi lebih tragis terjadi di ruas Bukik Gombak – Guok Cino. Pada November 2025, jalan rusak di lokasi ini menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa seorang mahasiswi UIN Batusangkar yang tengah menjalani praktik lapangan. Peristiwa ini memicu aksi demonstrasi mahasiswa yang mendesak pemerintah segera melakukan perbaikan.
Tekanan dari masyarakat, baik melalui aksi langsung maupun di media sosial, dinilai menjadi faktor penting yang mendorong percepatan proyek ini. Pemerintah pun merespons dengan menjadikan kedua ruas tersebut sebagai prioritas utama.
Sejumlah warga mengapresiasi langkah cepat pemerintah. “Kita bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah atas responnya,” ujar Syahril, salah seorang warga yang ditemui di lokasi.
Namun di sisi lain, muncul dugaan bahwa penunjukan rekanan dilakukan dengan pola pembagian merata atau “asa rato”. Isu ini mencuat karena adanya dua kontrak berbeda pada ruas jalan yang sama, meskipun berada pada titik pengerjaan yang berbeda.
“Babagi saketek surang, Pak,” ungkap seorang pekerja di lapangan, yang mengindikasikan adanya pembagian proyek antar rekanan.
Meski demikian, progres pekerjaan menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga saat ini, pengerjaan di ruas Guok Cino – Setangkai telah mencapai sekitar 90 persen. Sementara itu, pada ruas Bukik Gombak – Guok Cino, pekerjaan masih berada pada tahap base dan pemasangan batu awal, dengan estimasi penyelesaian dalam 45 hari ke depan.
Percepatan pembangunan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah provinsi mulai serius menangani infrastruktur jalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat, sekaligus upaya memulihkan kepercayaan publik terhadap kualitas layanan infrastruktur di daerah. (*)







