PADANG PARIAMAN | Langit mendung yang menggantung di atas Padang Pariaman seolah menjadi saksi bisu atas sebuah misteri yang belum terpecahkan. Sudah lebih dari setahun sejak Siska Oktavia Rusdi, atau yang akrab disapa Cika, mahasiswi berusia 23 tahun, menghilang tanpa jejak. Ia terakhir terlihat pada 12 Januari 2024. Sejak itu, hidup keluarganya seolah terhenti.
Dalam sebuah wawancara emosional yang disiarkan oleh Detak Sumbar beberapa bulan lalu, ibunda Cika muncul dengan linangan air mata, memohon keadilan bukan kepada aparat kepolisian atau pemerintah daerah, melainkan langsung kepada Presiden Prabowo.
“Ibu sudah lelah… Sudah setahun kami menunggu, tapi belum ada perkembangan. Saya berharap Presiden Prabowo dapat membantu kami, karena kami merasa tidak mendapatkan keadilan,” ucapnya dengan suara bergetar.
Suara sang ibu menjadi simbol kepedihan mendalam yang dirasakan keluarga Cika suara yang seolah tenggelam dalam labirin birokrasi dan minimnya perhatian dari pihak berwenang.
Isu mengenai hilangnya Cika bukan hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar di kalangan wartawan dan aktivis. Apakah ini sekadar kasus orang hilang biasa? Ataukah ada jaringan besar yang terlibat?
Ketua Forum Wartawan Parlemen (FWP), Yenni Laura, angkat suara dengan nada penuh kecurigaan.
“Kita curiga apakah si Cika ini menjadi korban perdagangan manusia? Kita desak Kapolres untuk serius menanggapi masalah ini,” tegasnya.
Baru pada Kamis, 30 Januari 2025, pihak Polres Padang Pariaman membentuk tim pencari khusus untuk menyelidiki hilangnya Cika dan seorang mahasiswi lain bernama Adek yang juga dilaporkan hilang.
Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, menjelaskan bahwa pihaknya telah memanggil sejumlah saksi dan mendatangi lokasi-lokasi yang berkaitan dengan kedua mahasiswi tersebut, termasuk kampus, rumah kos, serta rekan-rekan dekat mereka.
“Hari ini kami memanggil pihak perguruan tinggi, keluarga, rekan-rekan dekat, termasuk pasangan mereka, untuk menyamakan persepsi dan menelusuri keberadaan Cika dan Adek,”* ujar AKBP Faisol Amir saat itu.
Namun, setelah upaya tersebut dilakukan sejak Januari 2025 hingga April 2028, hasilnya masih nihil. Tak ada jejak, tak ada kabar.
Jeritan sang ibu kembali pecah, kali ini di hadapan Forum Wartawan Parlemen. Ia datang bukan sebagai simbol kekuatan, melainkan sebagai seorang ibu yang hancur, yang terus mencari keadilan dan keberadaan anaknya meski dunia seolah telah melupakannya.
Kisah ini belum berakhir. Cika masih hilang. Dan seorang ibu masih menunggu.
JR. Pratama





