Penulis: Ridwan Tulus
JAKARTA | Di balik setiap amanah besar, selalu ada kepercayaan yang dititipkan. Dan di balik kepercayaan itu, ada tanggung jawab untuk merawat nilai, pengetahuan, serta masa depan. Itulah perasaan yang menyertai kabar baik yang insyaa Allah akan terwujud pada 14 Januari 2026—sebuah undangan kehormatan untuk berbagi gagasan di panggung internasional yang berfokus pada warisan budaya Indonesia.
Atas referensi dan dukungan Prof. Azril Azahari, saya diundang menjadi pembicara tunggal dalam kelas khusus yang diselenggarakan oleh Indonesia Heritage Society (IHS) Jakarta. Sebuah organisasi sosial terkemuka yang selama bertahun-tahun menjadi jembatan antara Indonesia dan komunitas global pencinta heritage.
Berbasis di Jakarta, Indonesia Heritage Society (IHS) bukan sekadar komunitas diskusi. Organisasi ini menjadi ruang belajar lintas budaya yang anggotanya sebagian besar merupakan ekspatriat—mulai dari staf kedutaan besar, konsulat jenderal, hingga profesional asing—yang tinggal dan bekerja di Indonesia. Mereka datang dengan rasa ingin tahu yang tulus: memahami Indonesia bukan hanya dari permukaan, tetapi dari akar sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakatnya.
Bagi IHS, kebudayaan bukanlah artefak beku di museum. Ia hidup, bergerak, dan terus diwariskan melalui manusia, ruang, dan alam. Maka tak heran jika forum-forum seperti IHS Night Study Group selalu menjadi ruang dialog yang hangat, kritis, dan reflektif.
Awalnya, sesi khusus ini dirancang dalam format diskusi panel bersama Prof. Azril Azahari dan Dr. Rina Aziz. Namun dalam rapat bersama para senior IHS—Anne Ambler, Stephanie Pirolo, dan Ibu Yvonne Pangemanan—muncul kesadaran bahwa ada cerita yang perlu disampaikan secara utuh, mendalam, dan personal. Maka diputuskan format “One Speaker for One Session”, dan saya diminta untuk mengawali rangkaian sesi tersebut.
Sebuah keputusan yang sekaligus menjadi kehormatan dan tanggung jawab.
Topik yang akan dibawakan bukan sekadar konsep akademik, melainkan refleksi dari praktik lapangan dan perjalanan panjang bersama masyarakat adat:
“Community-Based Cultural Tourism in Minangkabau: A Legacy for the Future!”
Minangkabau bukan hanya tentang rumah gadang, randai, atau pepatah adat yang indah didengar. Ia adalah sistem nilai yang hidup—tentang relasi manusia dengan alam, tentang musyawarah, tentang peran komunitas sebagai penjaga identitas. Dalam konteks pariwisata, Minangkabau menawarkan pelajaran penting: bahwa pariwisata tidak harus merusak, tidak harus mengeksploitasi, dan tidak harus menjauhkan masyarakat dari jati dirinya.
Pariwisata berbasis komunitas di Minangkabau tumbuh dari nagari. Dari keputusan bersama. Dari kesadaran bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, melainkan dijaga. Bahwa budaya bukan untuk dipertontonkan semata, tetapi diwariskan dengan martabat.
Inilah yang akan dibagikan kepada audiens internasional IHS—sebuah pendekatan pariwisata yang memposisikan masyarakat lokal sebagai subjek, bukan objek; sebagai penjaga warisan, bukan korban pembangunan.
Rasa hormat dan terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada Prof. Azril Azahari. Sosok akademisi dan mentor yang tidak hanya memberi ruang, tetapi juga mendorong keberanian untuk berbagi di forum-forum terhormat. Melalui beliau, saya mendapat kesempatan berbagi inspirasi di berbagai kampus ternama di Indonesia—dari jenjang S1 hingga S3—hingga pengalaman luar biasa dipercaya sebagai pembicara utama pada World Tourism Day.
Kepercayaan seperti ini bukan sekadar pengakuan personal, melainkan pengingat bahwa gagasan tentang green tourism, slow tourism, dan life experience tourism semakin relevan di tengah dunia yang rentan terhadap krisis iklim dan bencana alam.
Indonesia, dengan kekayaan alam dan budayanya, memiliki peluang besar untuk menjadi Green Tourism Destination dunia. Namun peluang itu hanya bisa diwujudkan jika pembangunan pariwisata berpijak pada nilai keberlanjutan, kearifan lokal, dan keberpihakan kepada komunitas.
Melalui forum IHS ini, harapannya bukan hanya terjadi pertukaran pengetahuan, tetapi juga tumbuh pemahaman baru—bahwa masa depan pariwisata tidak ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan datang, melainkan oleh seberapa bijak kita menjaga yang diwariskan.
Terima kasih kepada Indonesia Heritage Society atas kepercayaan dan amanah ini. Semoga sesi ini menjadi ruang inspirasi, refleksi, dan kolaborasi lintas bangsa demi Indonesia yang lestari.
Stay safe and well.
Stay safe and healthy with Green Tourism Program.
Thank you for being a Green Friend of Indonesia.
www.sumatraandbeyond.co
International Green Tour Operator
Support for Green Tourism Institute
#greentourismclass #greentourismdestination #lifeexperiencetourism #OceanicHealing
#kampoenginspirasi #noplantrip #spacoffee #LocalChampion #tourdesigner
#greentourism #slowtourism #slowliving #studytour #schooltrip
#educationtrip #experientiallearningprogram #experientiallearning
#specialtysumatracoffee #coffeetrip





