Agam, Rabu 1 Oktober 2025, Mitra Pos | Suasana haru dan kepanikan menyelimuti RSUD Lubuk Basung, Rabu (1/10), setelah puluhan pelajar harus mendapatkan perawatan intensif akibat diduga keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Agam, Dr. Muhammad Lutfi, turun langsung meninjau kondisi para korban sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab pemerintah daerah terhadap warganya.
Dalam kunjungan tersebut, Sekda Agam menyempatkan diri berbincang dengan tenaga medis serta keluarga pasien yang menunggu dengan cemas di ruang perawatan. “Pemerintah Kabupaten Agam menaruh perhatian penuh terhadap kasus ini. Kami memastikan seluruh korban mendapat penanganan terbaik dan cepat,” tegasnya.
Menurut data yang diterima Mitra Pos, jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 50 orang. Dari jumlah tersebut, 28 siswa pertama kali dilaporkan mengalami gejala seperti muntah-muntah dan sakit perut usai mengonsumsi makanan dari program MBG di sekolah. Kasus ini terdeteksi di dua lokasi, yakni Nagari Manggopoh dan Kampung Tangah, Kecamatan Lubuk Basung.
Rincian penanganan medis:
- 22 pasien saat ini dirawat di Puskesmas Manggopoh.
- 11 orang ditangani di RSUD Lubuk Basung.
- 3 orang lainnya dirawat di RSIA Riski Bunda.
- Total korban: 50 orang, dengan 36 di antaranya berasal dari Manggopoh.
Untuk mempercepat evakuasi, Pemkab Agam telah menyiagakan lima unit mobil ambulans di Puskesmas Manggopoh, yang sewaktu-waktu siap merujuk pasien ke fasilitas kesehatan dengan peralatan lebih lengkap.
Hingga kini, penyebab pasti keracunan masih dalam penyelidikan. Namun kasus ini semakin menyoroti kelemahan pelaksanaan program MBG yang sejak awal peluncurannya sering kali diwarnai laporan keracunan makanan di berbagai daerah.
Tidak hanya membahayakan kesehatan fisik anak-anak, kasus ini juga menimbulkan trauma psikologis bagi para siswa serta mengikis kepercayaan publik terhadap program pemerintah. Data Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat, hingga saat ini telah ada 4.711 kasus kejadian luar biasa (KLB) terkait MBG di Indonesia.
Sekda Agam Dr. Muhammad Lutfi menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama tim medis dan satgas kesehatan sedang melakukan investigasi intensif. Ia juga menyerukan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program MBG, agar tidak lagi membahayakan masyarakat yang justru menjadi sasaran utama dari program tersebut.
“Program ini seharusnya menjadi jaminan pemenuhan gizi anak-anak kita. Tetapi jika berulang kali menimbulkan korban, kita wajib melakukan evaluasi serius,” tutupnya.
(AP Kari)



















