PASAMAN, MITRAPOS— Ancaman krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah pelayanan Perumda Tirta Saiyo. Musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah kerusakan jaringan distribusi dan dampak pekerjaan infrastruktur jalan, membuat pasokan air kepada pelanggan terganggu dalam beberapa pekan terakhir.
Di tengah tekanan tersebut, perusahaan daerah penyedia air minum itu terpaksa mengambil langkah darurat dengan menyalurkan air menggunakan truk tangki ke sejumlah kawasan terdampak. Langkah ini dilakukan untuk mencegah masyarakat mengalami krisis air bersih yang lebih parah, terutama di wilayah yang distribusi airnya terhenti total akibat penurunan debit sumber air dan gangguan jaringan perpipaan.
Direktur dan jajaran teknis Perumda Tirta Saiyo disebut bekerja hampir tanpa jeda untuk menjaga pelayanan tetap berjalan di tengah kondisi yang dinilai cukup berat. Kemarau yang melanda menyebabkan debit air baku mengalami penurunan signifikan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air bersih justru terus meningkat setiap hari.

“Ini bukan situasi normal. Ketika debit air turun drastis, sementara jaringan juga mengalami gangguan teknis, maka distribusi otomatis terdampak. Kami berupaya agar masyarakat tetap mendapatkan pasokan air, salah satunya melalui armada truk tangki,” ujar salah seorang petugas lapangan.
Distribusi air menggunakan mobil tangki difokuskan ke wilayah-wilayah yang mengalami gangguan paling serius. Petugas harus keluar masuk permukiman warga untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Di beberapa titik, antrean penampungan air terlihat terjadi sejak pagi hari. Warga mengaku tidak memiliki pilihan lain karena aliran air ke rumah mereka mengecil bahkan berhenti total.
Tidak hanya menghadapi dampak kemarau, Perumda Tirta Saiyo juga dihadapkan pada persoalan teknis serius berupa kebocoran pipa JDU ACP berdiameter 8 inci di Unit Pelayanan Rao. Kebocoran tersebut menjadi salah satu penyebab terganggunya distribusi air ke pelanggan di kawasan Rao dan sekitarnya.
Kerusakan pipa berukuran besar itu memaksa tim teknis melakukan pekerjaan perbaikan secara intensif. Proses penanganan tidak mudah karena pipa yang mengalami kebocoran merupakan jalur utama distribusi air. Jika terlambat ditangani, potensi kehilangan air dan meluasnya gangguan pelayanan diperkirakan akan semakin besar.
Petugas lapangan harus melakukan pembongkaran pada beberapa titik jaringan untuk menemukan sumber kebocoran. Situasi di lapangan diperparah oleh kondisi tanah dan usia pipa yang dinilai sudah cukup tua. Meski demikian, proses perbaikan terus dipercepat agar pelayanan kepada masyarakat segera kembali normal.
Di sisi lain, langkah peningkatan kapasitas distribusi juga mulai dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan air masyarakat yang terus meningkat, khususnya di kawasan kota Lubuk Sikaping. Salah satu upaya yang kini dikerjakan ialah pemasangan pompa di Sungai Landai.
Pemasangan pompa tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat tekanan distribusi air ke pelanggan di pusat kota. Selama ini, kapasitas distribusi kerap mengalami penurunan terutama pada jam-jam pemakaian tinggi. Akibatnya, sejumlah pelanggan mengeluhkan aliran air yang kecil bahkan tidak mengalir sama sekali pada waktu tertentu.

Dengan adanya tambahan pompa, diharapkan kapasitas dorong distribusi air menjadi lebih maksimal sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat lebih stabil. Proyek ini juga dipandang sebagai bentuk antisipasi jangka panjang terhadap ancaman kekurangan air saat musim kemarau kembali terjadi.
Namun persoalan pelayanan air bersih ternyata tidak berhenti sampai di sana. Pekerjaan optimalisasi jaringan juga harus dilakukan akibat dampak penanganan infrastruktur jalan di wilayah Simpati. Aktivitas alat berat dan pengerjaan badan jalan disebut turut mempengaruhi kondisi jaringan perpipaan milik Perumda Tirta Saiyo.
Beberapa titik jaringan distribusi terpaksa disesuaikan agar tidak rusak akibat proyek pembangunan jalan. Kondisi ini membuat petugas harus bekerja ekstra karena penyesuaian jaringan tidak dapat dilakukan sembarangan. Jika salah penanganan, gangguan distribusi air bisa meluas ke kawasan lainnya.
Masyarakat berharap seluruh pekerjaan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga pelayanan air kembali normal. Sebab bagi warga, air bersih bukan sekadar kebutuhan biasa, melainkan kebutuhan mendasar yang menentukan aktivitas harian, kesehatan, hingga kelangsungan usaha kecil masyarakat.
Situasi yang terjadi saat ini sekaligus menjadi alarm keras bahwa persoalan infrastruktur air bersih di daerah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Kemarau, jaringan tua, kebocoran pipa, hingga benturan dengan proyek pembangunan lain menunjukkan bahwa sistem distribusi air membutuhkan perhatian dan pembenahan serius secara berkelanjutan.
Di tengah berbagai tekanan itu, Perumda Tirta Saiyo kini berpacu dengan waktu. Di satu sisi perusahaan harus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan, sementara di sisi lain tantangan teknis dan kondisi alam terus menguji ketahanan sistem distribusi air di Kabupaten Pasaman. (*)


















