Refleksi Prof. Elfindri atas Pionir Wisata Hijau Indonesia
Di tengah hiruk pikuk industri pariwisata dunia yang semakin kompetitif, nama Ridwan Tulus menempati posisi unik: ia bukan sekadar pelaku, melainkan arsitek gagasan. Konsep Green Tourism yang ia usung sejak muda bukan hanya menjadi percakapan hangat di kalangan praktisi pariwisata, melainkan juga mendapat tempat terhormat di ruang akademik. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia menjadikannya sebagai bahan kajian, bahkan rujukan.
Bagi Prof. Elfindri, Direktur SDGs Universitas Andalas, konsep ini adalah maha karya yang lahir dari keberanian melihat pariwisata secara berbeda. Ia menuliskan refleksi ini sebagai bentuk apresiasi sekaligus ajakan: sudah saatnya pemerintah daerah, pelaku wisata, dan masyarakat menjadikan wisata hijau sebagai roh pembangunan destinasi.
Dari Millennium ke Sustainable
Sejak dunia bersepakat menjalankan Sustainable Development Goals (SDGs), sektor pariwisata ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama. Namun, Prof. Elfindri mengingatkan, kita pernah belajar dari kegagalan. Millennium Tourism Goals dianggap tidak memberi napas panjang. Wisata memang bergerak, ekonomi sempat menggeliat, tetapi dampak negatif terhadap lingkungan, budaya, hingga keseharian warga lokal lebih besar dibandingkan nilai tambah yang dihasilkan.
Konsep “green” kemudian menjadi penyeimbang. Wisata tidak hanya menjual panorama, tetapi juga memberikan pengalaman otentik yang membekas di hati turis. Lebih jauh, ia memastikan setiap aktivitas memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat. Inilah yang disebut Ridwan Tulus sebagai “net gain”—nilai tambah bersih, bukan sekadar perputaran uang.
Wisata yang Meninggalkan Jejak Bermakna
“Apalah arti perjalanan panjang bila tak meninggalkan kesan?” tanya Prof. Elfindri dalam refleksinya. Bagi Ridwan Tulus, kesan adalah inti. Seorang turis yang datang ke sebuah desa tidak cukup hanya memotret pemandangan sawah atau membeli oleh-oleh. Mereka harus larut dalam kehidupan lokal, belajar, ikut serta, dan berkontribusi.
Contoh kecil: randai dan silat, seni budaya Minangkabau yang selama ini lebih sering ditampilkan sekadar tontonan. Dalam kerangka Green Tourism, keduanya bisa menjadi “tourist institute”—turis mendaftar untuk belajar, bukan hanya menonton. Demikian pula dengan pengalaman di sekolah pedesaan. Turis asing bisa diajak bergotong royong membersihkan toilet atau mengecat dinding kelas bersama siswa lokal. Menariknya, meskipun mereka “volunteer”, mereka tetap bersedia membayar untuk pengalaman itu.
Selektif, Tapi Bernilai Besar
Banyak daerah masih berpikir bahwa turisme massal adalah kunci: makin banyak orang datang, makin besar pemasukan. Padahal, kata Ridwan Tulus, green tourism lebih selektif, tetapi pendapatannya bisa setara bahkan lebih tinggi. Turis yang datang mungkin tidak sebanyak wisata massal, namun mereka rela membayar mahal demi pengalaman yang otentik dan bermakna.
Selain itu, wisata hijau relatif lebih murah dikelola. Kawasan hutan, misalnya, lebih mudah dijadikan destinasi green tourism dibandingkan wisata berbasis kota besar atau lautan. Syaratnya hanya satu: desain yang tepat. Bagaimana destinasi dikemas, dikelola, dan dipromosikan sehingga setiap pengunjung pulang dengan kesan mendalam—itulah seni sekaligus tantangan Green Tourism.
Pionir dari Indonesia untuk Dunia
Dalam pandangan Prof. Elfindri, Ridwan Tulus bukan hanya tokoh lokal, tetapi pionir global. Di saat banyak negara sibuk membangun resort dan atraksi buatan, ia mengusung gagasan sederhana: kembali ke alam, kembali ke budaya, kembali ke manusia. Dan yang terpenting, kembali pada kesadaran menjaga lingkungan.
“Kenangan yang tidak dapat dinilai dengan uang,” tulis Prof. Elfindri, adalah inti dari desain wisata Ridwan Tulus. Kenangan itu lahir bukan dari fasilitas mewah, melainkan dari rasa keterhubungan antara turis dengan alam, budaya, dan komunitas setempat.
Profil Singkat Ridwan Tulus
Nama Ridwan Tulus mungkin tidak setenar tokoh politik atau pengusaha pariwisata besar di layar televisi, tetapi di kalangan pegiat wisata, akademisi, hingga organisasi internasional, ia dikenal sebagai sosok visioner. Sejak muda, Ridwan sudah menaruh perhatian pada isu lingkungan dan pariwisata. Berbeda dengan arus utama yang mengejar jumlah kunjungan turis semata, ia justru bertanya: apa yang tersisa bagi masyarakat lokal setelah turis pulang?
Pertanyaan sederhana itulah yang kemudian membawanya pada gagasan Green Tourism—konsep wisata yang menempatkan keberlanjutan, kearifan lokal, dan pengalaman otentik sebagai inti. Ia meyakini, wisata tidak boleh merusak, melainkan harus memberi kehidupan baru: bagi lingkungan, bagi budaya, dan bagi manusia.
Jejak kiprah Ridwan Tulus meluas, tidak hanya di dalam negeri. Ia kerap diundang berbicara dalam forum-forum internasional yang membahas keberlanjutan pariwisata. Beberapa kampus di Indonesia bahkan menjadikan gagasan Green Tourism sebagai bahan kajian akademik.
Di mata mereka yang mengenalnya dekat, Ridwan adalah pribadi sederhana. Ia lebih suka turun langsung ke desa-desa, berbincang dengan warga, dan mendengar cerita asli dari masyarakat. Baginya, setiap perkampungan punya potensi wisata yang unik, asal dikemas dengan jujur dan memberi manfaat bagi semua.
Tidak berlebihan bila Prof. Elfindri menyebutnya sebagai pionir wisata hijau dunia. Sebab, jauh sebelum istilah eco-tourism populer, Ridwan Tulus sudah menekankan pentingnya keseimbangan antara turis, tuan rumah, dan alam semesta.
Tugas Pemerintah Daerah dan Generasi Baru
Bagaimana dengan Indonesia hari ini? Menurut Prof. Elfindri, pemerintah daerah tidak perlu memulai dengan hal yang besar. Cukup satu program wisata hijau yang unik, otentik, dan menggema ke penjuru dunia. Dengan dukungan platform digital—yang juga dikembangkan bersama Ridwan Tulus—dampaknya bisa luar biasa.
Yang lebih penting, gagasan ini harus melahirkan generasi baru “tourist designer” di berbagai daerah. Mereka inilah yang akan meneruskan jejak Ridwan Tulus, memastikan wisata hijau tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan nyata yang memberi manfaat jangka panjang.
Epilog: Wisata untuk Kehidupan
Green Tourism ala Ridwan Tulus adalah pengingat bahwa pariwisata sejatinya bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi perjalanan kehidupan. Ia mengajarkan bahwa keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan manusia bukanlah komoditas sekali pakai, melainkan warisan yang harus dijaga.
Dan ketika seorang turis pulang dengan hati yang penuh, bukan hanya koper yang berat, maka di situlah pariwisata menemukan maknanya.



















