Padang mitra pos, | Bullying tidak selalu terjadi di sekolah atau tempat kerja. Di balik pintu rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, sebagian orang justru menghadapi cemoohan, hinaan, intimidasi, hingga kekerasan verbal yang dilakukan oleh anggota keluarga sendiri.
Ucapan seperti “kamu tidak berguna”, “selalu bikin malu”, atau perlakuan yang merendahkan secara terus-menerus sering dianggap sebagai cara mendidik. Padahal, tindakan tersebut dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam, mengikis rasa percaya diri, dan memicu gangguan kesehatan mental.
Ironisnya, banyak korban memilih diam. Mereka takut dianggap melawan orang tua, merusak nama baik keluarga, atau tidak dipercaya ketika berani mengungkapkan apa yang dialaminya. Akibatnya, praktik bullying di rumah terus berlangsung tanpa mendapat perhatian.
Psikolog menegaskan bahwa keluarga memiliki peran utama dalam membangun karakter dan kesehatan mental seseorang. Rumah seharusnya menjadi tempat untuk bertumbuh dengan rasa aman, bukan ruang yang dipenuhi ketakutan dan tekanan.
Bullying dalam keluarga bukan persoalan sepele. Membiarkannya sama saja dengan membiarkan luka terus menganga. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa perilaku tersebut salah, sekaligus komitmen untuk membangun komunikasi yang sehat, saling menghormati, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan maupun penghinaan.
Sudah saatnya masyarakat menyadari bahwa bullying tidak mengenal tempat. Ketika rumah berubah menjadi sumber ketakutan, yang hancur bukan hanya hubungan keluarga, tetapi juga masa depan korbannya. Rumah seharusnya menjadi tempat pulang yang menghadirkan rasa aman, bukan tempat yang meninggalkan trauma.
(Red)



















