Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NEWS

“Damkar Mogok di Jalan, Alarm Bahaya Pelayanan Publik Agam Berbunyi Keras”

223
×

“Damkar Mogok di Jalan, Alarm Bahaya Pelayanan Publik Agam Berbunyi Keras”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AGAM | Siang itu di kawasan Siguhung, suasana mendadak berubah janggal. Dua unit mobil pemadam kebakaran yang seharusnya melaju cepat menuju tugas justru terdiam kaku di badan jalan. Bukan karena medan berat, bukan pula karena kerusakan fatal mendadak, melainkan sesuatu yang terdengar sederhana—namun berdampak fatal: kehabisan bahan bakar.

Pemandangan tersebut sontak menyita perhatian warga sekitar. Dua “gajah merah” milik Satpol PP Damkar Kabupaten Agam itu terlihat tak berdaya, seolah kehilangan fungsi utamanya sebagai penyelamat dalam kondisi darurat.

Example 300x600

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, kedua armada itu mengalami mogok akibat kekurangan bahan bakar. Kondisi mesin disebut-sebut “masuk angin”, hingga tidak mampu dihidupkan kembali di lokasi kejadian.

Armada yang terdampak bukan kendaraan sembarangan. Mobil 01 yang biasanya siaga di Pos Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, serta Mobil 02 yang menjadi armada besar di Mako Induk Lubuk Basung, ikut terseret dalam insiden yang kini menjadi sorotan publik.

Seorang sumber di lokasi yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut, kondisi ini bukan hanya memalukan, tapi juga berbahaya.

“Mobil tidak sanggup lanjut karena kekurangan BBM. Mesin jadi berangin dan mati total di sini. Ini bukan kendaraan biasa, ini kendaraan penyelamat,” ujarnya lirih namun tegas.

Yang lebih mengundang tanya, para petugas di lokasi memilih bungkam. Tidak ada penjelasan, tidak ada klarifikasi, hanya diam di tengah situasi yang seharusnya membutuhkan keterbukaan.

Sikap tersebut justru mempertebal spekulasi di tengah masyarakat. Warga mulai mempertanyakan, bagaimana mungkin kendaraan operasional darurat bisa kehabisan bahan bakar di tengah tugas?

Seorang tokoh masyarakat setempat angkat suara. Ia menilai kejadian ini bukan sekadar insiden teknis, melainkan cerminan dari persoalan yang lebih dalam.

Baca Juga:  Wakapolda Sumbar Tinjau Barisan Anggota, Pastikan Standar Profesional Terjaga

“Apakah ini dampak efisiensi anggaran yang tidak tepat sasaran? Kalau yang mengelola paham betapa pentingnya damkar, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Ini menyangkut nyawa,” katanya dengan nada kecewa.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam situasi darurat seperti kebakaran, keterlambatan beberapa menit saja bisa menentukan antara selamat atau tidaknya harta benda, bahkan nyawa manusia.

Di tengah sorotan tersebut, Ketua Team Garuda 08 DPW Sumbar, Zamzami, turut memberikan tanggapan keras. Ia menyebut mogoknya dua armada damkar ini sebagai bentuk kelalaian serius.

“Sangat tidak masuk akal kendaraan operasional darurat tidak memiliki dukungan operasional yang memadai. Ini bukan soal kecil, ini menyangkut sistem pengawasan yang lemah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya tanggung jawab dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam memastikan kesiapan armada setiap saat.

“Kalau sampai mogok karena BBM, ini bukan lagi kelalaian kecil. Ini kegagalan dalam manajemen,” tambahnya.

Di sisi lain, muncul fakta lain yang tak kalah mencengangkan. Armada 04 dari Tanjung Raya, yang sebelumnya sempat beroperasi saat bencana banjir dan galodo tahun 2025, kini dikabarkan tidak lagi berfungsi dan hanya terparkir di Mako Induk Lubuk Basung.

Kondisi ini semakin memperkuat dugaan adanya persoalan serius dalam pengelolaan armada pemadam kebakaran di Kabupaten Agam.

Masyarakat pun mulai mempertanyakan, berapa sebenarnya armada yang benar-benar siap digunakan saat kondisi darurat terjadi?

Kondisi ini tentu menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang cepat dan tanggap, kesiapan armada penyelamat menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Keterbatasan anggaran kerap menjadi alasan klasik. Namun, ketika menyangkut layanan dasar yang berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat, alasan tersebut tidak lagi relevan jika berujung pada risiko besar.

Baca Juga:  Lapas Bukittinggi Siap Wujudkan Pemerintahan Bersih Lewat Pemeriksaan BPK RI

Hingga berita ini diturunkan, Kasat Pol PP Damkar Kabupaten Agam, Fauzi, belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan belum membuahkan hasil.

Ketidakjelasan ini membuat publik semakin menunggu—bukan sekadar penjelasan, tetapi juga langkah nyata untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.

Karena pada akhirnya, mobil pemadam kebakaran bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol harapan di tengah bencana—yang seharusnya selalu siap, bukan justru berhenti di tengah jalan.

TIM

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *